Friday, June 19, 2015

When Men Get Catcalled by Women (Buzzfeed Video)

If We Lived In A World Where Women Catcalled Men...

Posted by BuzzFeed Video on Sunday, September 28, 2014

Thursday, February 19, 2015

Kingsman: Nothing’s Really New but Nothing’s Boring and Everything’s Fun





Colin Firth termasuk aktor yang lebih sering memainkan peran yang tenang dan serius dalam drama, (meski King Speech sebenarnya tergolong lucu di mata saya). Dua Film Colin Firth yang agak nyeleneh yang pernah saya tonton hanya Mama Mia! (2008; supporting actor) dan Gambit (2012; lead actor), memang sih Colin Firth main di 2 film Bridget Jones yang kocak namun perannya di situ justru sebagai Darcy yang kaku, jadi enggak masuk hitungan lah.



Jadi waktu saya lihat trailer Kingsman: The Secret Service mata ini langsung lengket karena Pak Colin kelihatan keren banget dalam adegan action dan somehow still looks elegant with the suit, the (what now known as hipster) glasses and the black umbrella (meski bagiku dia akan selalu keren tanpa cela kapanpun dan di film apapun)  

Film ini sebenarnya tidak menampilkan plot, penjahat, motif, lokasi, gadget yang revolusioner atau baru. Semuanya pasti sudah pernah kita lihat dan kita dengar di film-film agen rahasia dan action. Dalam dialog Kingsman justru itu disinggung dengan sadar diri, salah satu anggota Kingsman berucap bahwa cerita-cerita tentang agen rahasia sekarang ini terlalu serius, nggak ada lagi yang lebay dan teatrikal.

Lebay dan teatrikal juga bukan resep baru buat para sutradara, namun memang bukan resep yang gampang dipraktekkan juga. Kalau nggak pas jadinya malah aneh, atau lebay yang bikin jijay. Namun di Kingsman jurus lebay dan teatrikal ini justru jadi kunci bagi semua premis-premis tua dan klise untuk disajikan dengan seger banget.

Kalo lo sekarang mikir “premis-premis tua dan klise kayak apa sih maksud lo?” 

Maksud gue yang kayak gini lhooo (awas spoiler)

  • Konsep guilt dan balas budi
  • Ayah tiri dan domestic abuse
  • Good brain + skills but bad motivation and attitude (urakan) 
  • Social class, priyayi versus rakyat jelata
  • Bootcamp and harsh recruitment setting
  • Penjahat yang berniat menguasai dunia (huahahahahahah)

Contoh premis-premis di atas kan sudah sering banget diulang-ulang di berbagai narasi. Film Kingsman nggak berusaha untuk menyamarkan premis klise itu dengan complication, psychological game, intense drama, atau apa lah yang lain. Kingsman mengikuti dengan santai tahap demi tahap  dari sebuah pola film bergender spy dan action, dialognya juga nggak witty atau vulgar banget.

Jadi apa nih yang bikin bagus?? Andai bisa in-depth interview sama sutradaranya. Apakah karena akting aktor-aktornya yang (beberapa) sudah mateng banget (selain Firth ada Mark Strong! dan Michael Caine)?  design produksi? pengambilan gambar action sequence yang keren? Or it’s just basically the beautiful bespoke tailored suits that looks magnificent on Mr Firth's body

But maybe… just maybe, a good art is the one which is fun to be dissected and talked  about and yet impossible to  theorize about


Wednesday, February 18, 2015

8 Different Things and 6 Same things I Do When Going to a Rock Concert NOT in My Early Twenties



Last year, an unexpected great occasion happened. I read that Avenged Sevenfold will do a South Asia Tour and will play in Jakarta in Jan 18th 2015. I was so excited since I missed their previous show years before due to common undergrad student’s poor finance.


Second chance rarely happens in concert situation here in my country so since I’ve got a job now and slightly better state of bank account I bought the pre-sale tickets immediately. It was fun, and yet I’ve noticed that a couple things indeed change when you’re going to a rock concert NOT in your early twenties

  1. I said I bought ticket immediately but actually I’m not rushing.. and didn’t felt nervous either. I was calm enough and pretty much ok when I saw the VIP front section was sold out until a younger friend of mine found other website that still has VIP front section and kindly offered to buy it for me. It used to be an ultimate target for me to be in front row…but now I’m content for middle section.
  2. Felt a bit of relief when I opened the promoter’s website and read that show would start at 7 PM… really… that’s neat! So it would approximately end at 9 PM. Praise god I can get decent hours of night sleep before Monday and its meeting routine
  3. Then after I acquired the real ticket (my very kind friend picked it for both of us) I read on it that show started at 8 PM… hmm 10 PM is kinda late, but I’ll just nap a bit in the taxi
  4. I opted for dark blue long sleeve t-shirt and dark blue jeans instead of my usual BLACK
  5. I stocked my little bag with snacks and water, just to keep the energy level while waiting. I usually survived with only lunch and not eating anything until after the show, somehow water was also not a necessity for me.
  6. I didn’t put heavy eyeliner and dark eye shadows also didn’t do black nail
  7. After the gate was opened and we were waiting in front of the stage for a good 2 hours, I was so glad that the crowd wisely decided to sit down for a while on the floor. That’s good, we need to save our energy for the 2 hours show
  8. Then I got a bit miffed when randomly they started to stand up while the show isn’t started for at least another hour… calm down kids we didn’t need to abuse our feet.


But after that, some things remained the SAME

  1. My level of excitement was definitely raised as per usual when roadie and tech started to come up the stage and set the equipment
  2.  Start to chant the band’s name with fellow fan
  3.  Making the loudest scream when band entered the stage and hit us with first song
  4. Head banging and singing and jumping to your favorite songs
  5.  Make usual horn sign with both hands
       Also  
      
      Literally sighing and swooning together with other girls when watching Synyster Gates doing solos on stage like this






Tuesday, February 17, 2015

Imitation Game: A Tale of Fragile Narcissist Pioneer called Turing



Prelude
Perang Dunia ke 2 termasuk salah satu era di dalam sejarah yang cukup sering diangkat dalam berbagai format cerita, baik yang didasari kisah nyata maupun fiksi. Saya pribadi banyak dikenalkan dan dibuat sangat tertarik dengan era tersebut (selain melalui serpihan pelajaran sejarah SMA yang tertinggal di kepala) antara lain oleh 10 episode Band of Brother (plus bukunya), 10 episode The Pacific, film Pearl Harbour, Letters from Iwo Jima, Enemy at the Gates dan banyak karya lain.

Film Imitation Game sejak awal sudah menggaet perhatian saya utamanya karena 2 hal:

(1) Konon film ini akan menceritakan bagaimana cara sesungguhnya Sekutu bisa menang atas Jerman Di LUAR strategi dan personel militernya (seperti Dick Winters FTW!)

(2) Karena pemeran utamanya adalah Benedict Cumberbatch

*ok… mungkin sejujurnya urutannya terbalik*

Setelah gigit jari karena tidak bisa nonton film ini saat Jakarta Film Festival (Imitation game menjadi surprise screening) akhirnya secara ajaib film ini masuk ke rantai bioskop komersil Indonesia, sepertinya menjadi film kandidat peraih oskar pertama yang beredar (mendahului Theory of Everything, Birdman, Whiplash, dsb).

So, begitu tahu tanggal 17 Januari 2015 ada jadwal midnight (23:30) di bioskop dekat rumah, saya langsung dengan semangat membara meniatkan diri, meski besoknya juga akan nonton konser Avenged Sevenfold juga (I can do it, hell yeah I’m still young! Am I?). Dan karena ada promo buy one get dengan rekening ponsel CIMB Niaga, sebagai customer yang tidak mau rugi akhirnya saya menyusun muslihat agar “get one” nya tidak mubazir yaitu dengan mengajak mami dengan modus membeli kacamata baru. Sebenarnya agak khawatir karena jadwalnya malam sekali, tema filmnya agak tidak biasa, dan belum tahu pace filmnya seperti apa, takutnya nanti nyokap bosan.  


Pay Attention to the Timeline Puzzle
Saya tidak tahu harus mengkategorikan Imitation Game ke dalam genre apa, apakah ia film Biopic? Thriller? Drama? Namun sejak dimulai film ini sudah langsung meminta perhatian penuh dari saya, atau tepatnya tokoh Alan Turing sendiri sudah langsung bertanya dengan tajam kepada kita

“Are you paying attention?”
“If you’re not listening carefully, you will miss things, important things. I will not pause. I will not repeat myself, and you will not interrupt me”....”I am in control, because I know things that you do not know.”…”You will listen closely and you will not JUDGE me until I am finished.”

Kalimat pembuka ini langsung membuat saya berpikir bahwa Bapak Turing ini galak, dan tidak sabaran (hipotesis awal: profesor matematika dan guru pelajaran eksakta itu berada pada genre yang sama)

Noted Mr Turing… My phone is in silent mode, I’m not munching popcorn, please start your story.
Cerita dalam film Imitation Game mengambil 3 periode dalam kehidupan Alan Turing. Pertama kali kita akan dipertemukan dengan Turing di Manchester tahun 1952 melalui sudut pandang Detektif Nock yang ditugaskan menyelidiki pencurian di kediamannya. Investigasi pencurian ini menyulut rasa penasaran Detektif Nock terhadap sang profesor eksentrik yang justru  sibuk menyapu bubuk sianida di lantai saat ditanyai dan tidak nampak marah ataupun berniat mengetahui siapa gerangan sang pencuri.




Kemudian kita dibawa ke London tahun 1939, saat Turing menjalani wawancara di Bletchley Park dengan Komandan Denniston yang sejak awal sudah dibuat naik darah oleh Turing yang menyatakan dirinya agnostik terhadap kekerasan (termasuk perang?). Periode ini memiliki porsi terbanyak dalam film dimana kita akan melihat usaha mati-matian tim pemecah kode membongkar kode enigma.

Periode ketiga menyorot sosok Turing saat masih duduk di sekolah (1928) yang menunjukkan bahwa sikap eksentrik Turing sudah ada sejak ia kecil  sehingga menjadikannya sasaran empuk untuk dijahili oleh teman-temannya. Kita juga akan mengenal sosok Christofer, satu-satunya murid di sekolah yang menganggap keanehan Turing sebagai pertanda bahwa Turing akan mampu melakukan sesuai yang luar biasa nantinya. Christofer kemudian akan memiliki tempat khusus di kehidupan Turing.

“You know Alan, sometimes it’s the very people who no one imagines anything of, who do the things no one can imagine” –Christofer to Turing-

Logic and Intellect without Relationship

“I don’t have time to explain myself as I go along and I’m afraid these men would only slow me down”

Kalimat ini dilontarkan Turing dengan ringannya di briefing awal ketika ia pertama kali bertemu  sejumlah orang yang akan menjadi koleganya. Sesungguhnya ia tidak bermaksud merendahkan atau melecehkan siapapun, ia hanya mencetuskan kesimpulan pemikirannya yang menurutnya logis.

Sementara rekan-rekannya bekerja sama menelaah pesan-pesan Jerman yang disandikan. Turing sudah memiliki persepsi yang berbeda. Ia sadar bahwa mesin Enigma yang memiliki 8 rotor dan 10 lubang kabel sehingga (menurut si tampan Hugh Alexander) bisa menghasilkan  159.000.000.000.000.000.000  kemungkinan kombinasi, tidak akan bisa dipecahkan secara manual. Ia berencana membangun mesin yang akan memecahkan kombinasi tersebut. Machine versus Machine. 


Pemikiran logis tanpa embel-embel kepantasan tersebut yang kemudian membuat Turing
  • Berani menyampaikan gagasannya mengenai mesin pemecah kode langsung ke Winston Churchill sehingga kemudian ia diberikan wewenang memimpin tim
  • Memberikan kesempatan yang sama kepada seorang wanita bernama Joan Clarke untuk mengikuti seleksi masuk timnya
  • Memutuskan untuk melamar Joan Clarke menjadi tunangannya
  • Berhasil mencegah timnya bertindak gegabah ketika mereka baru saja berhasil memecahkan kode Enigma

Menariknya, kita akan melihat bahwa bukan intelektualitas dan logika yang membuat Turing berhasil memecahkan Enigma melainkan hubungan dengan manusia lain, satu hal yang selalu ia abaikan. Selama ini Turing lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam menyusun papan sirkuit di mesin ciptaannya ketimbang berkomunikasi dengan timnya. Sampai Joan Clarke masuk ke dalam kehidupan Turing. Joan Clarke menjadi satu-satunya orang yang bisa memahami Turing sekaligus bisa mengomeli Turing (dengan lembut) bahwa ia membutuhkan bantuan dalam mengalahkan Enigma.

“I am a woman in a man’s job and I don’t have the luxury of being an ass. Alan, it doesn’t matter how smart you are, Enigma is always smarter. If you really want to solve your puzzle, then you’re going to need all the help you can get, and they are not going to help you if they do not like you.”


Confined by Secrecy, Punished for Being Different, Started and Ended Up Alone
Kita versus Mereka, Us versus Them adalah jenis konflik yang paling sering muncul dalam fiksi dan realita, namun di film ini kita akan menyaksikan bagaimana jika yang terjadi adalah Someone versus (almost) Everyone Else. And yet ironically, those who attacked him actually had the same goal s and wanting the same thing as him

Saya diajak untuk memahami seseorang yang sangat “berbeda” dari kita. Memang hal tersebut tidak mudah dan seringkali  sang individu “aneh” lah yang justru mempersulit keadaan. Penggambaran Turing sebagai outsider berhasil dibawakan dengan sangat mulus oleh Benedict Cumberbatch, mulai dari arah pandangan mata Turing yang sering menghindari tatapan langsung lawan bicaranya, cara bicara yang tersendat-sendat, gaya bekerja yang tidak biasa, sampai sesi lelucon ala Turing yang hanya membuat bingung pendengarnya.

Akhir kisah Imitation Game ini bukan termasuk jenis yang saya senangi (I like a good old fashion happy ending). Untuk sejenak saya dibuat terharu saat para penentang Turing akhirnya bisa mendeskripsikan keistimewaan karakter Turing dibalik kepribadiannya yang antik dan berbalik mendukungnya, saya juga dibuat lega dan gembira saat kode Enigma berhasil dipecahkan.   (edit: nggak tahu kenapa dulu nulis "mendeskripsikan" sepertinya yang ada di otak maksudnya "decrypt" *facepalm*) 

But the real ending yang berhasil menciptakan keheningan di ruang bioskop justru menceritakan bagaimana Turing kembali dihakimi sebagai sosok yang melanggar norma, dianggap abnormal, sehingga ia terpaksa kembali kepada kesendiriannya. Kolega yang sebelumnya dipikir sudah menjadi kawan tidak nampak membela atau setidaknya hadir untuk mendukung Turing. Bahkan negara yang berkat pemecahan kode Enigma oleh Turing tidak jadi lumat oleh Jerman sama sekali tidak mempedulikan Turing. In the end, it’s just him and……. (again) Christofer


Two weeks from my first viewing I decided to see The Imitation Game again 

Oh ya, salah satu adaptasi lain dari kisah Turing adalah drama teater berjudul breaking the code. Di sini Sir Derek Jacobi yang memerankan Turing. Pada versi ini kita bisa melihat sisi pribadi Turing saat berinteraksi dengan pria muda bayaran yang kemudian mencuri di rumahnya.



Bonus : A Handsome Pic of Hugh Alexander


Saturday, August 2, 2014

Description of Mass Media in Movie



I remember seeing Resurrecting The Champ when I was in college studying communication, media, and journalism. Some dialogs struck me strongly I decided to write it down in a notepad file. I rediscover the excerpt in my old PC and it's still so relevant today. So here they are

I'm here to help Showtime do what it does best, and that is entertaining the shit out of its audience. because in the end, absolutely everything is about entertaining the audience.

There is no journalism anymore, there is no news. The people  who claim to the hopes that they can inform the world, only slightly less naive than people who think they can pray their way out of the tsunami, and do you know the one thing that people don't want, is the truth.

I was more interested in writing what I want the story to be than what it actually was, the truth

Monday, May 12, 2014

Real Friends Don't Say "Just Google It!"

http://s883.photobucket.com/user/paulino_05/media/Decorated%20images/have20-you-tried-google-comic-strip.jpg.html

Opini baik berupa dukungan, protes, maupun curhatan (lho?) tentang bagaimana internet dan sebuah pintu kemana saja bernama Google berhasil mengubah cara manusia modern mencari informasi baik yang bertujuan mulia seperti riset skripsi maupun yang lumayan tercela seperti "riset" skripsi sudah sering dituliskan dan digaungkan. 

Namun yang hari ini terpikir oleh saya justru bagaimana Google bisa menjadi indikator niat seseorang untuk berbincang dan berbagi informasi dengan orang yang ada di sekitarnya.
Sebelum era internet dan Google, salah satu cara tergampang untuk mendapatkan informasi tertentu yang dibutuhkan adalah dengan bertanya secara verbal dan langsung kepada orang yang dianggap lebih tahu. Malas bertanya nyasar gak ketemu jalan lah peribahasanya.
Kunci utama dari sistem pencarian info gaya jadoel seperti ini menurut saya adalah pihak yang ditanya. Seberapa niat dia menyimak pertanyaan dan seberapa dermawannya dia dalam berbagi info. Dari sisi penanya, tingkat kepercayaan akan menentukan nilai dari informasi yang dia terima. Meskipun kalau sudah dikasih tahu tapi masih gak percaya ya memang amat sangat nggak sopan deh lo.. plis deh!
Jenis interaksi dan pertukaran informasi seperti itu yang saat ini sangat mungkin untuk disubtitusi atau digantikan (nyaris) sepenuhnya oleh Google

Exhibit A:
"Nyari sate ayam yg enak di mana sih Sob?"
"Ooh... gue pernah tuh makan di Sate Bang Somat, enak dan gak mahal, 10 tusuk sama lontong cuma 15 rebu" 

Exhibit B:
"Nyari sate ayam yg enak di mana sih Sob?"                 
"Coba lo Google apa cari di 4square dah, kalo yg check in banyak biasanya ngehits"  *sambil asik twitteran sendiri*
  
Biasanya Exhibit A akan menghasilkan obrolan yang manusiawi selama kurang lebih 10 menit bahkan bisa jadi setengah jam jika topik berhasil menjalar ke sate padang, sate klatak, sate lilit, dan sate lainnya
Sementara Exhibit B akan berujung pada 2 orang yg akhirnya melekatkan pandangan ke layar gadget masing-masing
Jika dinilai secara ilmiah dan empiris (cailah...) informasi yang didapat penanya pada Exhibit B mungkin lebih objektif karena berasal dari sampling kelompok responden yang cukup besar (asumsinya banyak orang yg check in four square di warung sate) sementara Exhibit A yang respondennya cuma seorang pastilah akan subjektif. Apalagi kalau ternyata pas dia makan ternyata dibayarin sama gebetannya.
Tapi hakikat (diksi makin ngawur) sebenarnya dari 2 skenario di atas adalah bagaimana pada Exhibit A pihak yang ditanya mau berinteraksi dengan penanya dan (jika dipandang dari kacamata melankolis) PEDULI

"Tapi kan gue nyimpen mood bicara gue untuk hal-hal yang lebih substantif!"

"Yo wis... siap-siap aja menambah lawan debat bukannya sahabat."