Saturday, July 14, 2012

(he refused to) Live Fast, Die Young and Leave a Beautiful Corpse



Please don't call this a movie review. It's an after movie thought, I kept in a note

Third Star sukses menoyor gue dengan premis "Oh dear self, here’s the rule you rarely realize, kehidupan tidak diberikan dalam porsi yang sama besar kepada setiap orang. Lo nggak akan tahu kapan porsi lo bakal habis" 

James mendapat jatah porsi kehidupan yang lebih kecil dari kita.

He’s 20-something years old, with an idea about the future he wanted and whom he should become, (James wants to be a writer) but he never been bold and crazy enough to make vulgar decision, to do more than average.

And then cancer came. The privilege of time to be bold, and crazy has become unavailable.

Merasa familiar dengan penggambaran karakter James? It’s us! It’s me! Idiot newbie of the adult world!

Untuk James, kanker membuat suapan terakhir dari porsi kehidupan menjadi sangat pahit dan sulit untuk ditelan. Rasa pahit itu tidak bisa hilang, bahkan tidak bisa larut dalam tegukan morfin cair yang setiap hari ia minum langsung dari botolnya.

“The sickness may be mine, but the tragedy is theirs.”

Bosan melihat sikap tragis dramatis orang-orang di sekelilingnya,  James memutuskan untuk menyingkir sejenak dari banjir simpati dengan mengadakan “perjalanan” (yang kemudian diejek sebagai pencarian jiwa palsu ala Oprah). Ia mengajak  tiga sahabat terdekatnya, Bill, Davy, dan Miles untuk menemaninya berkemah di Barafundle Bay, sebuah pantai yang selama ini menjadi lokasi favorit mereka.

Dalam perjalanan tersebut, James memiliki agenda untuk “menampar” para sahabatnya satu persatu. James mulai kesal terhadap Bill, Davy, dan Miles karena di matanya ketiga sahabatnya tersebut mulai melepaskan mimpi mereka dan terbawa arus “normal”  Menjalani kehidupan sekedarnya untuk mengamankan hal-hal standar seperti pekerjaan tetap, cicilan rumah, dan hubungan pribadi tanpa cinta yang dipertahankan hanya karena sudah terlanjur dimulai dan dilakukan dalam durasi yang terlalu lama.

We’ve all forgotten that moment when you realize we’ll never play in World Cup Final or be the first man on mars, and all those daydreams become fantasies rather than possibilities

Di antara insiden-insiden kocak, kelakuan konyol, gurauan khas pria, dan obrolan filosofis sambil menghisap daun mariyuana, James mulai mencecar ketiga sahabatnya. Ia tidak bisa menerima bahwa ketiga sahabatnya, dengan porsi kehidupan yang lebih besar dari dirinya, justru memilih kehidupan yang dicacinya sebagai “Pointless, Consumer-Fucker Lives.” Dengan getir ia mengungkapkan ketidakadilan yang dirasakannya: 

“I don’t want to die! I want more time. I was going to do so much. I was going to be special.”
 
Bill, Davy, dan Miles akan menjawab tuduhan sinis James tersebut secara berbeda. Silahkan mencari cerminan sikap pribadi kita dalam reaksi mereka. Bagaimana jika kamu dituduh telah menghamburkan hidup, oleh seorang sahabat yang sedang menunggu kematiannya? 

Ada yang menyerang balik James dengan kalimat “Cancer’s no excuse for being an egomaniac. Why are you so special?” Ada yang hanya mengangkat bahu dan mengakui bahwa memang ia secara sadar memilih untuk melakukan hal yang mudah, setelah gagal mencapai tujuan idealnya. Ada pula yang tidak menjawab tuduhan James sama sekali, membiarkan James menghakiminya karena ia merasa wajib untuk melidungi perasaan sahabatnya tersebut.

Di akhir film, tujuan James yang sesungguhnya pun terungkap, bukan sekedar berkemah untuk melupakan penyakitnya. James sudah menyiapkan rencana lain tanpa sepengetahuan Bill, Davy, dan Miles. Ia ingin ketiga sahabatnya membantunya melakukan sesuatu, yang menurutnya akan membuatnya merasakan sensasi “hidup” yang selama ini terkalahkan oleh rasa sakit dari penyakitnya.

No comments:

Post a Comment