Monday, May 12, 2014

Real Friends Don't Say "Just Google It!"

http://s883.photobucket.com/user/paulino_05/media/Decorated%20images/have20-you-tried-google-comic-strip.jpg.html

Opini baik berupa dukungan, protes, maupun curhatan (lho?) tentang bagaimana internet dan sebuah pintu kemana saja bernama Google berhasil mengubah cara manusia modern mencari informasi baik yang bertujuan mulia seperti riset skripsi maupun yang lumayan tercela seperti "riset" skripsi sudah sering dituliskan dan digaungkan. 

Namun yang hari ini terpikir oleh saya justru bagaimana Google bisa menjadi indikator niat seseorang untuk berbincang dan berbagi informasi dengan orang yang ada di sekitarnya.
Sebelum era internet dan Google, salah satu cara tergampang untuk mendapatkan informasi tertentu yang dibutuhkan adalah dengan bertanya secara verbal dan langsung kepada orang yang dianggap lebih tahu. Malas bertanya nyasar gak ketemu jalan lah peribahasanya.
Kunci utama dari sistem pencarian info gaya jadoel seperti ini menurut saya adalah pihak yang ditanya. Seberapa niat dia menyimak pertanyaan dan seberapa dermawannya dia dalam berbagi info. Dari sisi penanya, tingkat kepercayaan akan menentukan nilai dari informasi yang dia terima. Meskipun kalau sudah dikasih tahu tapi masih gak percaya ya memang amat sangat nggak sopan deh lo.. plis deh!
Jenis interaksi dan pertukaran informasi seperti itu yang saat ini sangat mungkin untuk disubtitusi atau digantikan (nyaris) sepenuhnya oleh Google

Exhibit A:
"Nyari sate ayam yg enak di mana sih Sob?"
"Ooh... gue pernah tuh makan di Sate Bang Somat, enak dan gak mahal, 10 tusuk sama lontong cuma 15 rebu" 

Exhibit B:
"Nyari sate ayam yg enak di mana sih Sob?"                 
"Coba lo Google apa cari di 4square dah, kalo yg check in banyak biasanya ngehits"  *sambil asik twitteran sendiri*
  
Biasanya Exhibit A akan menghasilkan obrolan yang manusiawi selama kurang lebih 10 menit bahkan bisa jadi setengah jam jika topik berhasil menjalar ke sate padang, sate klatak, sate lilit, dan sate lainnya
Sementara Exhibit B akan berujung pada 2 orang yg akhirnya melekatkan pandangan ke layar gadget masing-masing
Jika dinilai secara ilmiah dan empiris (cailah...) informasi yang didapat penanya pada Exhibit B mungkin lebih objektif karena berasal dari sampling kelompok responden yang cukup besar (asumsinya banyak orang yg check in four square di warung sate) sementara Exhibit A yang respondennya cuma seorang pastilah akan subjektif. Apalagi kalau ternyata pas dia makan ternyata dibayarin sama gebetannya.
Tapi hakikat (diksi makin ngawur) sebenarnya dari 2 skenario di atas adalah bagaimana pada Exhibit A pihak yang ditanya mau berinteraksi dengan penanya dan (jika dipandang dari kacamata melankolis) PEDULI

"Tapi kan gue nyimpen mood bicara gue untuk hal-hal yang lebih substantif!"

"Yo wis... siap-siap aja menambah lawan debat bukannya sahabat."

No comments:

Post a Comment