Tuesday, February 17, 2015

Imitation Game: A Tale of Fragile Narcissist Pioneer called Turing



Prelude
Perang Dunia ke 2 termasuk salah satu era di dalam sejarah yang cukup sering diangkat dalam berbagai format cerita, baik yang didasari kisah nyata maupun fiksi. Saya pribadi banyak dikenalkan dan dibuat sangat tertarik dengan era tersebut (selain melalui serpihan pelajaran sejarah SMA yang tertinggal di kepala) antara lain oleh 10 episode Band of Brother (plus bukunya), 10 episode The Pacific, film Pearl Harbour, Letters from Iwo Jima, Enemy at the Gates dan banyak karya lain.

Film Imitation Game sejak awal sudah menggaet perhatian saya utamanya karena 2 hal:

(1) Konon film ini akan menceritakan bagaimana cara sesungguhnya Sekutu bisa menang atas Jerman Di LUAR strategi dan personel militernya (seperti Dick Winters FTW!)

(2) Karena pemeran utamanya adalah Benedict Cumberbatch

*ok… mungkin sejujurnya urutannya terbalik*

Setelah gigit jari karena tidak bisa nonton film ini saat Jakarta Film Festival (Imitation game menjadi surprise screening) akhirnya secara ajaib film ini masuk ke rantai bioskop komersil Indonesia, sepertinya menjadi film kandidat peraih oskar pertama yang beredar (mendahului Theory of Everything, Birdman, Whiplash, dsb).

So, begitu tahu tanggal 17 Januari 2015 ada jadwal midnight (23:30) di bioskop dekat rumah, saya langsung dengan semangat membara meniatkan diri, meski besoknya juga akan nonton konser Avenged Sevenfold juga (I can do it, hell yeah I’m still young! Am I?). Dan karena ada promo buy one get dengan rekening ponsel CIMB Niaga, sebagai customer yang tidak mau rugi akhirnya saya menyusun muslihat agar “get one” nya tidak mubazir yaitu dengan mengajak mami dengan modus membeli kacamata baru. Sebenarnya agak khawatir karena jadwalnya malam sekali, tema filmnya agak tidak biasa, dan belum tahu pace filmnya seperti apa, takutnya nanti nyokap bosan.  


Pay Attention to the Timeline Puzzle
Saya tidak tahu harus mengkategorikan Imitation Game ke dalam genre apa, apakah ia film Biopic? Thriller? Drama? Namun sejak dimulai film ini sudah langsung meminta perhatian penuh dari saya, atau tepatnya tokoh Alan Turing sendiri sudah langsung bertanya dengan tajam kepada kita

“Are you paying attention?”
“If you’re not listening carefully, you will miss things, important things. I will not pause. I will not repeat myself, and you will not interrupt me”....”I am in control, because I know things that you do not know.”…”You will listen closely and you will not JUDGE me until I am finished.”

Kalimat pembuka ini langsung membuat saya berpikir bahwa Bapak Turing ini galak, dan tidak sabaran (hipotesis awal: profesor matematika dan guru pelajaran eksakta itu berada pada genre yang sama)

Noted Mr Turing… My phone is in silent mode, I’m not munching popcorn, please start your story.
Cerita dalam film Imitation Game mengambil 3 periode dalam kehidupan Alan Turing. Pertama kali kita akan dipertemukan dengan Turing di Manchester tahun 1952 melalui sudut pandang Detektif Nock yang ditugaskan menyelidiki pencurian di kediamannya. Investigasi pencurian ini menyulut rasa penasaran Detektif Nock terhadap sang profesor eksentrik yang justru  sibuk menyapu bubuk sianida di lantai saat ditanyai dan tidak nampak marah ataupun berniat mengetahui siapa gerangan sang pencuri.




Kemudian kita dibawa ke London tahun 1939, saat Turing menjalani wawancara di Bletchley Park dengan Komandan Denniston yang sejak awal sudah dibuat naik darah oleh Turing yang menyatakan dirinya agnostik terhadap kekerasan (termasuk perang?). Periode ini memiliki porsi terbanyak dalam film dimana kita akan melihat usaha mati-matian tim pemecah kode membongkar kode enigma.

Periode ketiga menyorot sosok Turing saat masih duduk di sekolah (1928) yang menunjukkan bahwa sikap eksentrik Turing sudah ada sejak ia kecil  sehingga menjadikannya sasaran empuk untuk dijahili oleh teman-temannya. Kita juga akan mengenal sosok Christofer, satu-satunya murid di sekolah yang menganggap keanehan Turing sebagai pertanda bahwa Turing akan mampu melakukan sesuai yang luar biasa nantinya. Christofer kemudian akan memiliki tempat khusus di kehidupan Turing.

“You know Alan, sometimes it’s the very people who no one imagines anything of, who do the things no one can imagine” –Christofer to Turing-

Logic and Intellect without Relationship

“I don’t have time to explain myself as I go along and I’m afraid these men would only slow me down”

Kalimat ini dilontarkan Turing dengan ringannya di briefing awal ketika ia pertama kali bertemu  sejumlah orang yang akan menjadi koleganya. Sesungguhnya ia tidak bermaksud merendahkan atau melecehkan siapapun, ia hanya mencetuskan kesimpulan pemikirannya yang menurutnya logis.

Sementara rekan-rekannya bekerja sama menelaah pesan-pesan Jerman yang disandikan. Turing sudah memiliki persepsi yang berbeda. Ia sadar bahwa mesin Enigma yang memiliki 8 rotor dan 10 lubang kabel sehingga (menurut si tampan Hugh Alexander) bisa menghasilkan  159.000.000.000.000.000.000  kemungkinan kombinasi, tidak akan bisa dipecahkan secara manual. Ia berencana membangun mesin yang akan memecahkan kombinasi tersebut. Machine versus Machine. 


Pemikiran logis tanpa embel-embel kepantasan tersebut yang kemudian membuat Turing
  • Berani menyampaikan gagasannya mengenai mesin pemecah kode langsung ke Winston Churchill sehingga kemudian ia diberikan wewenang memimpin tim
  • Memberikan kesempatan yang sama kepada seorang wanita bernama Joan Clarke untuk mengikuti seleksi masuk timnya
  • Memutuskan untuk melamar Joan Clarke menjadi tunangannya
  • Berhasil mencegah timnya bertindak gegabah ketika mereka baru saja berhasil memecahkan kode Enigma

Menariknya, kita akan melihat bahwa bukan intelektualitas dan logika yang membuat Turing berhasil memecahkan Enigma melainkan hubungan dengan manusia lain, satu hal yang selalu ia abaikan. Selama ini Turing lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam menyusun papan sirkuit di mesin ciptaannya ketimbang berkomunikasi dengan timnya. Sampai Joan Clarke masuk ke dalam kehidupan Turing. Joan Clarke menjadi satu-satunya orang yang bisa memahami Turing sekaligus bisa mengomeli Turing (dengan lembut) bahwa ia membutuhkan bantuan dalam mengalahkan Enigma.

“I am a woman in a man’s job and I don’t have the luxury of being an ass. Alan, it doesn’t matter how smart you are, Enigma is always smarter. If you really want to solve your puzzle, then you’re going to need all the help you can get, and they are not going to help you if they do not like you.”


Confined by Secrecy, Punished for Being Different, Started and Ended Up Alone
Kita versus Mereka, Us versus Them adalah jenis konflik yang paling sering muncul dalam fiksi dan realita, namun di film ini kita akan menyaksikan bagaimana jika yang terjadi adalah Someone versus (almost) Everyone Else. And yet ironically, those who attacked him actually had the same goal s and wanting the same thing as him

Saya diajak untuk memahami seseorang yang sangat “berbeda” dari kita. Memang hal tersebut tidak mudah dan seringkali  sang individu “aneh” lah yang justru mempersulit keadaan. Penggambaran Turing sebagai outsider berhasil dibawakan dengan sangat mulus oleh Benedict Cumberbatch, mulai dari arah pandangan mata Turing yang sering menghindari tatapan langsung lawan bicaranya, cara bicara yang tersendat-sendat, gaya bekerja yang tidak biasa, sampai sesi lelucon ala Turing yang hanya membuat bingung pendengarnya.

Akhir kisah Imitation Game ini bukan termasuk jenis yang saya senangi (I like a good old fashion happy ending). Untuk sejenak saya dibuat terharu saat para penentang Turing akhirnya bisa mendeskripsikan keistimewaan karakter Turing dibalik kepribadiannya yang antik dan berbalik mendukungnya, saya juga dibuat lega dan gembira saat kode Enigma berhasil dipecahkan.   (edit: nggak tahu kenapa dulu nulis "mendeskripsikan" sepertinya yang ada di otak maksudnya "decrypt" *facepalm*) 

But the real ending yang berhasil menciptakan keheningan di ruang bioskop justru menceritakan bagaimana Turing kembali dihakimi sebagai sosok yang melanggar norma, dianggap abnormal, sehingga ia terpaksa kembali kepada kesendiriannya. Kolega yang sebelumnya dipikir sudah menjadi kawan tidak nampak membela atau setidaknya hadir untuk mendukung Turing. Bahkan negara yang berkat pemecahan kode Enigma oleh Turing tidak jadi lumat oleh Jerman sama sekali tidak mempedulikan Turing. In the end, it’s just him and……. (again) Christofer


Two weeks from my first viewing I decided to see The Imitation Game again 

Oh ya, salah satu adaptasi lain dari kisah Turing adalah drama teater berjudul breaking the code. Di sini Sir Derek Jacobi yang memerankan Turing. Pada versi ini kita bisa melihat sisi pribadi Turing saat berinteraksi dengan pria muda bayaran yang kemudian mencuri di rumahnya.



Bonus : A Handsome Pic of Hugh Alexander


No comments:

Post a Comment